Kami burung yang baru lahir. Bisa makan bila ada yang menyuapi. Kami belum bisa terbang. Kami baru belajar terbang dari induk-induk kami yang selalu berkenan mengajari kami.
Kami tidak tahu harus berbuat apa untuk meningkatkan apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra. Kami di sini sebagai jentik-jentik yang ingin membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap sastra selalu bingung. Entah bagaimana caranya untuk membangkitkan apresiasi masyarakat terhadap sastra.
Masyarakat kita telah mengalirkan budaya tutur dari turun temurun, sehingga sedikit orang yang ingin membaca atau sebuah sastra tertulis. Masyarakat lebih tertarik terhadap sastra yang melibatkan audio visual sebagai sarana penyajiannya.
hal itu bukan tak lazim, masyarakat terkatung-katung dari buta huruf yang melanda negri ini. Sampai saat ini masih banyak masyarakat kita yang terpenjara dan terkatung-katung dalam kemiskinan huruf. Terkatung-katung pula pada pendidikan.
Bukan hanya itu, masyarakat terlebih-lebih memiliki kegemaran yang berbeda. Banyak masyarakat yang datang ke warnet dan membuka mosila namun hanya cat dan cat atau mencari sesuatu yang mereka inginkan. Biasanya masyarakat lebih suka membuka masalah masalah yang berkaitan dengan teknologi ketimbang sastra.
Mungkin dengan coretan kecil ini. Kami bisa meramaikan karya sastra yang ada di negeri Indonesia tercinta ini sehingga membuat masyarakat lebih gemar membaca karya sastra.
Hanya ini yang bisa kami banggakan sebagai tanggung jawab kami yang bernaung di bidang sastra dan bahasa indonesia serta kecintaan kami terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
Semoga apa yang kami telorkan di Coretan ini bisa membuat para visitor tidak kapok untuk berkunjung ke Coretan ini.
Kami berharap ada visitor yang berkunjung dan membaca yang kami telorkan di Coretan ini. Tanpa pembaca, coretan ini kambang atau percuma adanya. Karena hanya pembaca yang bisa menikmati coretan ini.
Kami mohon maaf bila ada kesalahan ucapan kami atau kata-kata kami kurang berkenan di hati anda kami mohon di buang jauh jauh.
Terimakasi
oleh INAS Klepon
Cerita seorang Pecandu
Aku pernah berbagi barang ini dengan teman-temanku
Waktu itu mereka mencariku di kosku
Tangan mereka bergetar, kaki mereka lelor dan kata mereka telah terbata-bata
Kelopak mata mereka telah hitam, bibir mereka telah layu dan putih
Mereka datang berempat. Aku tanya mereka “kenapa?”
Seorang menjawab, “kami tak mampu membeli barang”
Aku mesti berbuat apa, aku punya untuk malamku ini saja
Lebihnya aku tak punya, kalau aku berikan kepada mereka, toh kekurangan
Tapi mereka sahabatku, sebuah jarum suntik kami sering pakai bersama
Itu kami lakukan ketika kiriman uang telah menipis di ATM kami
Ketika barang-barang kami telah kami tukar dengan barang itu
Kami selalu berbagi barang, kami bersaudara, saudara pecandu
Dalam kegelapan malam itu, ku ajak teman-temanku masuk di kamarku
Mereka berbaring, mereka menggigil, telah dua hari mereka tak pake barang itu
Sepeti biasa ketika tanggal 30 sampai tanggal 1 bulan berikutnya, aku sering seperti ini
Dua hari tak pake, aku juga menggigil, dingin semua yang ada tubuhku
Aku ambil sebuah jarum suntik di bawah ranjangku, jarum yang terbungkus kotak sepatu
Ku sembunyikan jarum itu biar tak ada yang tahu, apalagi mereka tahu kalau aku pemakek
Hanya sahabat yang sama sepertiku yang boleh tahu
Aku tak iangin kedua orang tuaku tahu uang mereka ku pakai seperti ini di kota ini
Ku buka jarum itu, aku masukkan bubuk putih, ku tambahkan dengan setetes air mineral
Aku ikat lengan temanku, mereka ku gilir dengan jarum yang sama
Mereka langsung lemas, barang itu cukup menanggung gigilan mereka untuk malam ini
Tapi aku tak tahu, apakah aku mampu melewati malam ini tanpa jarum dan serum itu
Semakin ku pikirkan rasa itu, tanganku mulai menggigil
Kini aku kelaparan, bukan lapar nasi atau darah seperti derakula
Tapi aku lapar serum itu, aku ingin serum itu
Semuanya habis, aku tak kebagian, haruskah aku menahan perih ini?
Aku seperti serigala kelaparan
Semua barang ku lempar
Aku menggigil kelaparan
Aku mencengram tanganku
Kembali ku balikan tubuh kawanku yang terlelap
Aku menghamburkan buku di atas mejaku
Seperti anjing kelaparan dalam kerangkeng
Aku menjerit kesakitan
Terasa ingin pecah kepalaku
Ku tahan semua itu, hanya mencoba
Semuanya tak mampu ku tahan
Aku lemas, duduk di sudut kamar
Ku cabik sebuah kain,
Ku ikat kedua tanganku sebelum aku tak sadar dan meronta
Aku ambil sebuah lakban yang biasa ku pakai setiap tanggal 30
Sepert sekarang…
Mulutku telah ku balut, tanganku telah ku ikat
Aku menjerit, aku merinding, aku kedinginan tapi mereka tak tahu
Teman temanku tertidur lelap, mereka kehabisan tenaga
Aku kini menggigil, dingin dan keram
Otakku melayang, siapa yang terbayang
Semuanya sama, wajah yang seram
Wajah ayahku yang memakiku
Dia katai aku pecandu
Aku gila mala mini….
Malam ini aku tak sanggup , harus ku dapat semua itu
Ku ambil pisau di samping kursi belajarku
Ku gores tangan kiriku, mengalir-megalirlah darahku
Tergolek aku lemas, aku bisa mengisap darahku
Tapi darahku terlalu banyak mengalir, luka di pergelanganku terlalu besar
Aku lemas setelah ku hisap darah yang deras mengalir dari pergelanganku
Aku tak memikirkan apa lagi,,,
aku terbangun di sebuah bad putih dan infuse di pergelangan tangan kananku
Ternyata aku telah dirumah sakit
Teman-temanku yang telah sadar dari gigilan mereka disampingku
Aku tak tahu, ini salah atau benar
Hari ini hampir saja jasadku pulang ke pangkuhan ayah dan ibuku
oleh I Nyoman Alit Suwarbawa
Singaraja, 21 Januari 2010
Ku Rindu Kecupanmu
Tiga hari telah bayangmu berlalu, pagi itu kau lambaikan tangan kananmu
Kau berikan sebuah kecupan padaku lalu kau pergi begitu saja
Aku duduk di motor membalas kecupanmu dan menyodorkan tangan kiriku
Sebelum kau lihat tangan kiriku, kau telah menampakkan rambutmu dan punggungmu
Aku mengingat itu mala mini, kau pakai jaket tipis milikku
Hitam warnanya, malam kemarin kau bilang pakai itu biar mengenangku
Ya, aku jawab begitu saja.
Aku pikir kepergianmu sementara itu tak begitu berarti bagiku
Tapi… malam ini malam ketiga kau telah di pulau jawa
Aku terus mengingatmu, aku tak mampu seperti bersamamu tertawa
Malam ini aku diam di kamarku dengan sebuah handphone
Dia tak berdering walau malam telah menyelimuti hari ini
Kemana dirimu? Aku bertanya terus dalam hatiku
Tak ada sebuah smsmu masuk ke handphone ku
Gangguan operator atau kau juga tak punya pulsa seperti aku disini?
Aku tak tahu, entah kau dimana malam ini
Siapa di sampingmu, siapa mengantarmu ke alam mimpi aku tak tahu
Ku pandangi sebuah helm, ia berkata “tak mungkin aku mengantarmu ketempat pacarmu”
Aku menggelengkan kepalaku. Aku tak yakin pada katanya
Tapi dia hanya sebuah helm yang aku beli di toko sewaktu aku masih SMA
Aku tak tahu mengapa perasaanku malam ini begitu takut
Bukan karena tak ada sms darimu, akupun tak tahu tapi aku mengingat langkah terahirmu bersamaku
Apa aku merindukanmu? Uhhh aku tak mengerti apa yang aku rasakan mala mini
Hanya ada banyanganmu di pikiran ini
Tak ku ingin mengambil handphone yang tak berdering
Tak ingin ku panggil Entong yang menggonggong di luar sana
Aku hanya ingin melihatmu di dekapanku
Malam ini untuk malam ini aku ingin bersamamu
Tiga hari telah aku tak melihatmu, ini malam yang tak berbintang aku ingin kau jadi sebuah bintang
Kau bintang yang bersinar menerangi rasa kalut dalam pikiranku malam ini
Berikan aku kecupanmu dari handphonemu malam ini
Aku inginkan itu malam ini di tepi ranjang yang tak berselimut
Aku telah tak berselimut, ranjang yang tak beselimut semuanya tak berselimut
Aku menanti kecupanmu malam ini tanpa selimut
Tanpa kasur dan bantal yang berselimut, aku menantikan kecupanmu
Disini, di kamar tanpa selimut menanti sebuah kecup darimu
oleh I Nyoman Alit Suwarbawa (INAS Klepon)
Singaraja, 21 Jan 2010
Singaraja, 21 Jan 2010
Ku persembahkan buat kekasihku Isa
Langganan:
Postingan (Atom)