Di sini hujan lebat Mun
Tapi aku tetap menunggu
Hingga pohon nangka tak mampu melindungiku
Aku basah kuyup
Aku kedinginan Mun
Truck yang melintas percikkan air dari aspal yang keruh
Pohon nangka terterjang angin terus
Dan hujan terus mengguyurku
Aku masih berdiri menunggu
Di bawah pohon nangka depan rumahmu
Ditemani thunder hitamku
Mun…
Aku rindu pelukanmu Mun
Rambutmu yang terurai bercelimir di antara hidung dan telingaku
Tanganmu mendekap pundakku
Dadamu menyatu di belahan dadaku
Dan, kita terlindung payung
Itu yang aku tunggu Mun
Oleh I Nyoman Alit Suwarbawa (INAS)
Bangli, 07 feb 2010
Kehangatanmu
Tangan ini mulai hangat
Secangkir kopi ku ambil dari tangan gadis kecil
Sebatang rokok ku hirup sampai puntungnya
Asapnya mengepul di ronggaku
Kopi itu mulai ku teguk
Sedikit hangat, telah mampu hangatkan tenggorokanku
Tapi pikiranku masih teringat denganmu Dek
Goresan kecil di bawah hidunngmu terus terbayang
Secangkir kopi ini memang hangatkan aku dari hujan ini
Tapi, apa daya secangkir kopi
Bila itu ku bandingkan dengan belaianmu
Tak ada artinya Dek
Apalagi tanganmu halus
Sepuluh jemarimu mendekap kedua ketiakku
Hembusan nafasmu yang memelati ku cium
Aku tersungkur dalam kehangatanmu
Begitu juga desahmu
Selalu menggeliat di belakang daun telingaku
Hangat bahkan panas rasanya
Oleh I Nyoman Alit Suwarbawa (INAS Klepon)
Bangli, 07 feb 2010
Secangkir kopi ku ambil dari tangan gadis kecil
Sebatang rokok ku hirup sampai puntungnya
Asapnya mengepul di ronggaku
Kopi itu mulai ku teguk
Sedikit hangat, telah mampu hangatkan tenggorokanku
Tapi pikiranku masih teringat denganmu Dek
Goresan kecil di bawah hidunngmu terus terbayang
Secangkir kopi ini memang hangatkan aku dari hujan ini
Tapi, apa daya secangkir kopi
Bila itu ku bandingkan dengan belaianmu
Tak ada artinya Dek
Apalagi tanganmu halus
Sepuluh jemarimu mendekap kedua ketiakku
Hembusan nafasmu yang memelati ku cium
Aku tersungkur dalam kehangatanmu
Begitu juga desahmu
Selalu menggeliat di belakang daun telingaku
Hangat bahkan panas rasanya
Oleh I Nyoman Alit Suwarbawa (INAS Klepon)
Bangli, 07 feb 2010
Si lamban, Si malang
Kerbau,,
kerbau yang lambat, kerbau yang malang
belalang tua bermain dalam ilalang
kerbau yang lambat sungguh malang
belalang yang serakah terus mengangkang
O,, cepatlah kau akhiri
ini sandiwara membuatku muntah
O ini berita bukan sumpah serapah
hai kerbau yang lambat jangan terus kau makan itu sampah
orang-orang sudah menunggu
mengapa kau masih lamban
O... kerbau yang malang,, jangan masih kau tertidur
mentari sudah mulai tenggelam
dan cerita esok pagi masih trus berjalan
jangan sampai cerita itu masih terdengar
O..kerbau-kerbau yang lamban rerumputan masih menghijau
O... kerbau-kerbau yang malang usir belalang jangan biarkan ia merusak tanah kami
ATA PADI 080110
kerbau yang lambat, kerbau yang malang
belalang tua bermain dalam ilalang
kerbau yang lambat sungguh malang
belalang yang serakah terus mengangkang
O,, cepatlah kau akhiri
ini sandiwara membuatku muntah
O ini berita bukan sumpah serapah
hai kerbau yang lambat jangan terus kau makan itu sampah
orang-orang sudah menunggu
mengapa kau masih lamban
O... kerbau yang malang,, jangan masih kau tertidur
mentari sudah mulai tenggelam
dan cerita esok pagi masih trus berjalan
jangan sampai cerita itu masih terdengar
O..kerbau-kerbau yang lamban rerumputan masih menghijau
O... kerbau-kerbau yang malang usir belalang jangan biarkan ia merusak tanah kami
ATA PADI 080110
Langganan:
Postingan (Atom)